Sabtu, 10 Maret 2012

PLAYBOY KARET (Bab III - Seorang Lelaki Harus Berani Bermimpi)

Bab III
Seorang Lelaki Harus Berani Bermimpi

Aden duduk sendirian di sebuah kursi panjang. Lorong gedung yang sepi di lantai tiga membuatnya sangat kesepian dan merana. Hanya beberapa dosen yang terkadang lewat memecah lamunannya. Sambil menunggu dosen, waktunya banyak dihabiskan untuk melamun dan berkhayal. Sosok wajah cantik Fidhi kembali hadir di tengah lamunannya.
Fidhi Kirana Larasati. Satu-satunya wanita yang bisa membuatnya hilang kepercayaan diri. Ketika di hadapannya semua modal yang Aden miliki sebagai playboy cap buaya hilang entah ke mana. Kalimat-kalimat romantis yang telah menaklukan banyak wanita itu seolah menguap tak bersisa. Perjumpaannya kemarin sungguh membuat Aden semakin hilang kepercayaan dirinya di depan perempuan itu.
“Dia masih pacaran sama Neon.” bisik Aden, pesimis.
Suara derap sepatu berjalan mendekat, menyadarkannya.
“Selamat siang, pak.” sapa Aden kepada Dosen yang telah dua jam dia tunggu.
“Selamat siang, mau bimbingan ya?”
“Betul pak.”
“Seperempat jam lagi ya mas. Saya mau makan siang dulu.”
“Baik pak.” Aden pasrah.
---------------------------------
“Saudara baru kelihatan? Linggar Radendya kan?” tanya Dosen pembimbing skripsinya.
“Betul pak.” jawab Aden lirih.
“Sudah dua semester tidak bimbingan, kenapa?”
DEG
“... eehhh.” Aden bingung, tidak menyangka akan ditanya seperti itu.
“Aduh ... dia masih ingat aku.” dalam batinnya.
“Saudara satu-satunya mahasiswa semester empat belas yang belum lulus di Fakultas Ekonomi. Nama saudara sudah sering disebut-sebut dalam rapat dosen. Saudara ingin drop out?
“Tidak pak.”
“Tidak apa? Tidak mau lulus?”
“Bukan pak. Saya tidak mau drop out.” Jawab Aden. Mukanya memelas.
“Masih ada waktu lima bulan. Saudara harus rajin dan tekun. Setiap hari harus datang bimbingan pada saya. Sanggup?”
“Saa.. saaanggup pak.” Aden ragu.
Sang dosen mengangguk-angguk. Diambilnya sebatang rokok. Tangannya masuk ke dalam saku. Seperti sedang mencari sesuatu.
“Kamu bawa korek?”
“Eh ... bawa pak.” Aden mengambil korek dalam sakunya dan menyerahkannya pada dosen pembimbingnya.
“Maaf kalau saya sambil ngerokok. Saya paling ndak bisa kalau habis makan trus ndak ngerokok.” Kata dosen tersebut sambil menghisap rokoknya.
“Sama pak.” Aden keceplosan.
“Hah ... kenapa mas?” tanya sang dosen.
“Oh, eng .. eeenggak pak.” Aden gelagapan.
“Bapak setiap hari ke kampus?” Aden bertanya. Mengalihkan pembicaraan.
“Yang penting setiap hari senin sampai jumat kamu ke kampus saja. Ada saya atau tidak ada saya itu urusan nanti. Yang penting kamu harus rajin ke kampus. Tunggu saya. Kalau saya tidak datang kamu kan bisa ke perpustakaan.”
DEG!
Olala ... masa aku harus olah raga naik turun tangga setiap hari. Dan menunggu tanpa kepastian.” dalam hati Aden.
“Baik pak.” itu yang bisa Aden jawab. Pasrah.
“Mana berkas proposal skripsinya?”
Aden membuka tasnya dan tidak mendapati berkas proposalnya di situ.
DEG!
 “Ke mana berkasnya? Tadi di sini. Jin kampus doyan makan berkas, ya?” batin Aden, tetap berusaha bersikap tenang. Sambil mengingat-ingat.
“Ma ... ma ... maafff pak. Ketinggalan.” ucap Aden terbata.
Dosen pembimbing skripsi geleng-geleng kepala sambil mengelus dada. “Ya sudah besok saja bimbingannya. Masih muda kok pikun.”
“Baik pak. Terima kasih. Saya permisi.” Aden berdiri dan keluar dari ruang dosen.
Aden berjalan menuruni tangga, keluar gedung dan menuju tempat parkir.
“Den ... mas Aden.” Seseorang teriak memanggilnya dari dalam kantin. Kantin di kampus letaknya dekat dengan tempat parkir.
Orang itu keluar kantin dan berlari mendekat. Tangannya memegang sebuah tumpukan kertas. “Ini berkas proposal mas tadi tertinggal di meja kantin.”
Oalaaaa.
“Makasih ya mba.” Kata Aden pada si penjaga kantin.

===============================
“Aden ke mana sih, kok nggak pernah ngumpul lagi?” tanya Dona.
“Nggak tau tuh, ngilang gitu aja. Nggak ada kabar juga tentang hasil pertemuan dengan pak Bowo.” Timpal Angga.
“Aku udah berusaha kontak dia tapi nomornya nggak aktif.” Vivid menambahkan.
“Coba lu kontak dia lagi Vid.” Perintah Dona.
Aku terjatuh ... aku terjatuh lagi di pelukanmu. Sebuah nada tunggu ST 12 keluar dari speaker handphone Vivid.
“Aktif nih nomernya.” Vivid memberi tahu kepada Angga dan Dona.
Sudah kubilang, hapus air mata. Suara Charlie ST 12 masih berbunyi di sana. Cinta ku hilang ... TUTT . “Ya halo.” Suara Charlie berganti dengan suara yang sudah dikenalnya.
“Den, di mana lu?” Vivid bertanya.
“Aku di kampus.” Suara Aden terdengar di sana.
“Ngapain lu di kampus? Ada target baru ya? Atau jangan-jangan lu lagi ngecengin mba penjaga kantin biar dapat jatah jajan gratis?”
“Sialan. Nggak lah. Aku lagi sibuk bimbingan skripsi. Udah dulu ya. Nanti sore aku ke studio. Salam buat anak-anak.”
“Eh tapi ... gimana pak Bowo? Dapat kon....” TUTT... TUTT... belum selesai bicara, telponnya ditutup.
Sudah seminggu ini Aden rajin ke kampus. Tekadnya sudah bulat. Semangatnya tidak kalah dengan pasangan pengantin baru di malam pertama. Kalau perlu dan jika diperbolehkan oleh satpam kampus, dia akan mendirikan tenda di depan gedung kampus demi menyelesaikan skripsinya. Jarak kampus dan kost Aden memang sangat jauh. Empat puluh lima menit perjalanan harus ditempuhnya. Bahkan kalau jam kerja bisa sampai satu jam lebih karena macetnya jalanan kota Jogja.
“Mas, kampusnya di sebelah mana?” tanya ibunya saat dulu menjenguknya di tempat kost.
“Jauh bu, ini sudah gelap, kalau ke sana bisa-bisa kita ditangkap petugas keamanan kampus gara-gara dikira mau maling.” Jawab Aden sekenanya.
“Lho kok ambil kost di tempat ini? Mbok ya pindah saja ke yang deket kampus.” Saran ibunya.
“Enak di sini bu. Nyaman, tenang buat belajar.” Aden memberi alasan.
“Di sini dekat Studio tempat anak-anak ngumpul bu.” Lanjutnya dalam batin.
Musik bagi Aden sama pentingnya dengan udara dan air. Musik adalah segalanya. Impiannya adalah menjadi musisi sejati.
“Apa impian lu?” tanya Ferry pada Andry suatu ketika.
“Aku ingin menjadi Astronot suatu saat nanti. Mendarat di Bulan dan membawa pulang ke bumi sekarung pasir Bulan untuk aku jadiin mas kawin saat aku nikah nanti sama Wulan.” Jawab Andry berimajinasi.
“Ngarang lu ah. Kalau lu Den punya impian apa? Tanya Ferry beralih pada Aden.
“Gantungkan impianmu setinggi langit, kawan. Lagian bulan itu tingginya masih kalah tinggi dibandingkan langit. Masih ada kemungkinan aku menggapainya” Andry tak terima.
“Elu gimana, Den?” tanya Ferry lagi tak mengubris pendapat Andry.
“Aku punya impian, nanti kalau aku mati, aku ingin seluruh dunia menangisi kepergianku. Jutaan orang mengantarkanku ke peristirahatan terakhir. Ribuan karangan bunga berjajar mengucapkan belasungkawa. Dan aku akan menulis surat wasiat, begini.”
SURAT WASIAT : 
TOLONG JUAL KEMBALI RIBUAN KARANGAN BUNGA ITU DAN HASIL PENJUALANNYA SUMBANGKAN KE PANTI ASUHAN ATAU PANTI JOMPO.  
TTD,

Aden (Sang Musisi Legendaris)
Wakakakakakakakakak ... tawa meledak seketika.
“Iya benar, sekalian saja pemakaman lu itu dibuat tertutup alias ticketing. Terus hasil penjualan tiketnya bisa disumbangkan ke Afrika.” Ferry berkomentar, meremehkan.
“Yee ... emangnya kamu punya impian apa?” tantang Aden.
“Gue ingin menjadi pembalap. Melintas sekencang-kencangnya di sirkuit Monaco bersama Hassan.” Jawab Ferry sambil mempraktekan gaya menyetirnya.
“Emang Hassan itu siapa? Pembalap nomor satu dunia ya?” tanya Andry yang buta akan dunia balapan.
“Bukan. Hassan itu nama mobil gue.” jelas Ferry tentang mobil Nissan Stanza keluaran tahun 1985, sudah ada sebelum mereka lahir.
Wakakakakakakakakakakk ... tawa mereka kembali meriuhkan suasana kost.

-BERSAMBUNG-

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar