Jumat, 23 Maret 2012

PLAYBOY KARET (Bab VII - Seorang Lelaki Tidak Boleh Malas)

BAB VII
Seorang Lelaki Tidak Boleh Malas

Pemuda itu masih saja tertidur saat waktu sudah menunjukan pukul 11 siang. Pemuda itu masih saja berlindung di balik selimut saat bangsa ini terpuruk dengan berbagai kasus korupsi dan membutuhkan keberanian dari para anak bangsa untuk memeranginya. Pemuda itu masih saja terpejam saat kerja bakti di kampungnya telah selesai pada hari minggu itu. Pemuda itu bahkan masih saja terlelap saat terdengar suara ramai ibu-ibu yang ngerumpi di acara arisan di rumahnya itu.
“Mas bangun! sudah siang.” Kalimat itu yang sedari pagi ibunya ucapkan, tetapi sia-sia. Ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala dan keluar kamar.
Jam 1 siang baru terlihat tanda-tanda tubuhnya bergerak setelah tidur bagai mumi, diam tidak bergerak sedikitpun. Hanya cacing-cacing di perutnya yang dapat membangunkannya. Dia mulai merasa lapar dan terbangun. Setelah bangun tidur seperti biasa dia menuju meja makan di ruang tengah. Sepotong tempe goreng yang sudah dingin menjadi korban pertamanya. Sambil terus mengunyah korban kedua, yaitu tahu, dia menyadari tak dijumpai seorangpun di rumahnya siang itu, sangat sepi di sana. Kemudian dia berjalan menuju ruang keluarga berniat menyalakan televisi. Sesampainya di sana dilihatnya sebuah kertas menempel di layar televisi.
MAS ADEN YANG PEMALAS. YANG PASTI BARU BANGUN DARI TIDURNYA. AYU, IBU, DAN BAPAK PERGI DULU KE RUMAH BUDE, MENJENGUK BAYINYA MBA NOVI. DI LEMARI BELAKANG ADA MIE INSTAN, MAKAN SIANGNYA MIE SAJA YA. TADI BURU-BURU NGGAK SEMPAT MASAK. BAIK-BAIK YA DI RUMAH. KALAU ADA MALING PURA-PURA TIDUR AJA BIAR NGGAK DI APA-APAIN HEHE.
ADIKMU YANG CANTIK

AYU
Dilipat-lipatnya kertas itu membentuk sebuah kapal terbang, dan diterbangkannya memutari ruangan keluarga. Aden mengurungkan niatnya menyalakan televisi, dan berniat menuju dapur untuk memasak mie, tetapi langkahnya terhenti ketika suara telpon berdering.
Kriinggg ... kringgg ...
“Haloo ... selamat pagi eh selamat siang.” Sapa Aden, kesadarannya masih belum terkumpul benar.
“Haloo my friend, apa kabar kawan long time no see?” kata suara di ujung sana yang hafal dengan suara Aden.
“Ah ... baik Ferr, hehe.” Jawab Aden menebak suara cempreng sahabatnya itu.  
“Lama banget nggak ketemu, dah kerja di mana? Kasih kabar dong.”
“Jadi pengacara, Ferr. Pengangguran banyak acara.”
“Wah kebetulan nih, gue ada berita bagus buat lu.” Ferry mengambil nafas sejenak.
“Ayahnya Fifi yang direktur itu, di perusahaannya sedang membutuhkan seorang tenaga akuntansi baru. Gue langsung inget lu. Gimana tertarik nggak? Pokoknya beres deh, gue jamin lu diterima.” lanjut Ferry bersemangat.
“Di Jakarta ya?” tanya Aden lirih, seolah bertanya pada diri sendiri. Dia berpikir.
“Gimana?” Ferry memburu.
“Aku coba deh, dah jenuh juga nganggur hehe.”
“Siiiipp. Nanti gue hubungin lagi.”

“Aku tunggu ya. Thanks Ferr.”

============================

“Bu, mas Aden besok mau ke Jakarta. Ade ikut boleh kan? Ada permainan baru di Dufan yang ade belum coba. Mumpung ini liburan sekolah, boleh ya bu? Boleh ya bu?” rengek Ayu pada ibunya saat makan malam.
“Mas Aden ke Jakarta bukan untuk liburan, dia mau wawancara kerja. Nanti malah kamu bikin repot dek.” Ibunya halus memberi pengertian.
“Tapi kata bapak boleh, ya kan pak” Ayu kembali merayu, mengharap pembelaan dari bapaknya.
“Iya boleh tapi nanti kalau ade sudah punya pacar, hehe.” Bapaknya meledek.
Aden hanya memperhatikan tingkah manja adiknya yang sangat disayanginya itu. Ayu memang bermasalah dengan yang namanya pacaran. Sudah menginjak kelas tiga SMA tetapi belum pernah sekalipun berpacaran atau dekat dengan yang namanya cowok, selain bapak dan kakak satu-satunya itu. Berat tubuhnya bisa dibilang sangat jauh dari ideal, hal itu mungkin yang membuatnya tidak percaya diri dan menutup diri dari cowok.
Mendengar jawaban bapak semuanya tertawa kecuali Ayu yang langsung diam seribu bahasa, mengambek. Piringnya yang telah kosong, ditambahkan lagi nasi ke dalamnya. Itu sudah porsi ke dua pada makan malam kali ini. Aden tersenyum geli melihatnya. Adiknya itu kalau sedang mengambek memang makannya semakin banyak.
“Sudah dek, jangan nangis. Nanti mas Aden beliin balon deh, Adek mau warna apa?” Aden tak tahan untuk tidak ikut menggoda adiknya tersebut.
“Buuuuu ... , mas Aden jahat. Memangnya ade anak kecil.” Ayu melapor pada ibunya.
“Hihi ... memang anak kecil kok. Kalau memang sudah gede, buktiin dong. Bawa pacar ke rumah. Kenalin sama ibu dan bapak.” Belum puas Aden menggoda.
“Buuuu ... “ Ayu kembali meminta pembelaan dari ibunya. Lauk pauk di meja makan menjadi pelampias kekesalannya. Tidak berhenti mulutnya mengunyah.
“Sudah ... sudah ... jangan ribut lagi. Mas Aden kan hanya bercanda.” bela ibunya.
“Baiklah, sebagai kepala rumah tangga di sini, bapak menimbang dan memutuskan.” Bapaknya berbicara layaknya seorang Camat sedang memimpin rapat di Kecamatan. Ibu, Aden, dan Ayu memperhatikan dengan seksama layaknya seorang Lurah yang sedang menunggu keputusan rapat dari pak Camat.
“Eheemmm ... jika saudari Ayu tidak diberikan ijin ke Jakarta, kemungkinan besar dia akan mengambek sampai seminggu. Dan saudara-saudari pasti sudah tahu apa yang akan dilakukan saudari Ayu jika dia mengambek. Dampaknya akan merembet pada urusan logistik keluarga kita. Dari pada stok makanan sebulan habis hanya dalam waktu satu minggu, maka bapak ijinkan untuk ke Jakarta.” Bapaknya memberi keputusan.

“HOREEEEE!!!!!! Jakata I’am coming.” Ayu memutari meja makan tiga kali, berjoged-joged dan kemudian memberi ciuman tanda terima kasih kepada bapaknya.
 =========================

Bapak dan ibu mengantarkan kedua anaknya ke stasiun Tawang Semarang. Ibu tak henti-hentinya terus mengingatkan agar mereka tidak lupa memberi kabar.
“Jangan lupa memberi kabar. Salam buat Bude dan Jeni.” Pesan ibu kepada Aden.
“Dek, Lumpia dan Wingko ini oleh-oleh buat bude lho. Jangan dihabiskan. Kalau lapar pesan saja makanan di kereta.” bapak mengingatkan Ayu, setengah meledek.
Ayu hanya mengangguk, tidak marah dengan ledekan bapak karena hatinya sedang gembira, akan berlibur. Aden dari sepanjang perjalanan sampai stasiun tidak banyak bicara. Pikirannya masih berputar-putar pada satu pertanyaan. Apa aku sanggup kerja di Jakarta? Kerja kantoran.
Diciumnya tangan bapak dan ibu dengan penuh perasaan. Sudah berumur seperempat abad, tetapi aku masih juga belum bisa memberikan apa-apa untuk kedua orang tuaku, untuk adikku. Batin Aden merintih.
“Pak, Bu, Aden berangkat. Mohon doa untuk kesuksesan Aden. Bapak dan ibu jaga kesehatan ya.” Sekuat tenaga Aden menahan air mata yang mendesak ingin keluar.



Tiga bulan menganggur di rumah benar-benar sangat dinikmatinya. Kedekatan dengan keluarga memang sudah lama tidak Aden rasakan sejak memasuki SMA hingga lulus kuliah. Begitu lulus SMP Aden pindah ke Jogja. Saat SMA di Jogja Aden ikut numpang tinggal di rumah Tantenya, Tante Lis. Begitu kuliah dia memutuskan untuk kost.
Hari pertama di Jakarta mereka lewati dengan rekreasi sepuas mungkin. Mereka ditemani oleh sepupu mereka, Jeni. Kaki Aden pegal setengah mati setelah berjam-jam menemani Ayu dan Jeni berputar-putar di Dufan. Segala permainan hampir tidak dilewatkannya. Belum puas di situ, Ayu mengajak ke Ancol. Aden hanya bisa pasrah menuruti kemauan adiknya itu.

Sesampai di sana Aden memutuskan untuk tidak ikut berenang. Dia hanya duduk-duduk sambil mengawasi adiknya dan Jeni yang tengah asyik bermain air di wahana permainan Ancol. Ingatannya kembali ke masa silam, masa SMA.
Fidhi. Ya. Kolam renang pernah membuatnya sangat malu di depan wanita pujaannya itu.



Aden pulang lebih awal pada hari itu. Panas badannya tinggi, kepalanya pusing. Tante Lis membujuknya untuk periksa ke dokter. Tetapi saat itu uang saku Aden tidak akan cukup jika harus membayar biaya dokter dan obat. Meskipun Aden tahu tantenya pasti yang akan membayar semua biaya dokter, namun Aden tetap tidak mau jika harus ke dokter. Dirinya sudah cukup merepotkan dengan numpang tinggal di rumah tantenya itu.
“Nggak usah tante, paling cuma masuk angin biasa kok. Besok juga sembuh.” Aden menolak ajakan Tante ke dokter saat itu.
“Ya sudah kalau begitu. Biasanya kalau masuk angin tante itu dikerikin. Setelah dikerik baru sembuh. Sini mau tante kerikin?” tantenya membujuk, khawatir dengan keadaan keponakannya itu.
Sebelumnya Aden tidak pernah dikerikin. Tetapi dia sering melihat ibu atau bapaknya di rumah kalau masuk angin dikerikin. Dan memang sembuh setelah itu. Aden enggan sebenarnya dengan tawaran tante. Tetapi badan rasanya sudah tak karuan, memaksa Aden untuk mau mencoba tawaran tante.
“Boleh deh, te. Maaf merepotkan.” Jawab Aden. 
Dan keesokan harinya Aden memang benar sembuh. Badannya segar kembali. Surat ijin yang sudah dibuatnya semalam diurungkannya untuk dikirim ke sekolah.
Hari itu pada jam pertama adalah pelajaran olah raga.
“Hari ini ujian praktek berenang ya anak-anak.” Pak Sorichi mengingatkan di depan kelas.
Hampir seluruh kelas bersorak kegirangan.
“Asyik bisa survey lagi.” Teriak Fuad, ngeres.
“Yesss ... akhirnya celana renang sexy gue yang baru beli bisa dipakai.” Gumam Ratna, genit.
“Horayyy, horayy, bisa ... “ Santi menghentikan kalimatnya.
Bisa dibopong lagi sama pak Sorichi yang keren. Aku akan pura-pura tenggelam lagi ah.” Shanti melanjutkan kalimatnya, dalam batin.
Aden merasa seolah-olah dirinya tengah dikelilingi oleh sekumpulan singa laut yang begitu merindukan air. Keringat dinginnya tanpa sadar keluar tanpa permisi terlebih dahulu. Karena pulang lebih awal dia memang tidak membaca pengumuman dari guru olahraga, pak Sorichi, kemarin siang. Memberitahukan bahwa besok akan ada ujian praktek berenang. Tentunya dengan harapan siswa tidak lupa membawa pakaian renang keesokan harinya.
Terpaksa dia harus ikut jika mau lulus mata pelajaran ini. Beruntung rumah Upi dekat dengan kolam renang tempat ujian.
“Pi, aku pinjam celana renangmu dong. Rumahmu kan dekat kolam renang. Balik rumahmu bentar yuk?” mohon Aden pada Upi.
“Tenang kawan. Saya adalah sahabat yang pengertian. Saya sudah membawa dua celana karena saya tahu kamu kemarin pulang terlebih awal dahulu. Jadi saya tahu kalau kamu pasti tidak membaca pengumuman. Pasti tidak membawa celana renang. Kita langsung ke kolam renang saja. Saya membawa dua celana pagi ini.” Jawab upi dengan gaya bicaranya yang khas, panjang lebar dan berputar-putar susah dimengerti.
“Hehe ... sipp ... thanks ya, Pi.” Ucap Aden lega, merasa tertolong.
Aden tidak sadar akan bahaya yang mengancamnya. Sekali pikun ya tetap pikun. Ceroboh tak bisa dipungkiri.
=======================
 Aden tidak terlalu suka berenang. Ketika teman-teman sekelasnya telah bersiap sejak awal dan berenang sendiri sembari menunggu giliran dipanggil untuk ujian, Aden hanya duduk di pinggir kolam renang sambil memperhatikan Fidhi yang telah turun ke air sejak awal. Sangat khusyu.
Keindahan body Fidhi semakin terlihat jelas saat dia mengenakan pakaian renang. Hal itu membuat Aden seakan terhipnotis tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya, matanya tak pernah lepas memandang gadis itu dari kejauhan. Pikirannya menjadi ngeres tidak karuan.
Jin, ubahlah aku menjadi pakaian renang yang dikenakannya.
Jin, ubahlah aku menjadi air di kolam renang itu.
Jin, ubahlah aku menjadi handuk yang akan dipakainya nanti.
Atau sabun mandinya, atau shamponya juga boleh.
Khayalannya melayang terbang bagai kapas ringan, yang kemudian menutup telinganya. Tidak didengarnya suara apapun selain suara desir ombak-ombak kecil yang dibuat oleh gerakan-gerakan Fidhi di dalam air.
Sejak awal satu persatu siswa dipanggil sesuai dengan urutan absen untuk diuji keahlian berenangnya. Dan tibalah giliran Aden yang masih saja belum sadarkan diri dari pengaruh hipnotis Fidhi.
“Nomor absen 24, Linggar Radendya!” pak Sorichi memanggil. Menyadarkan Aden yang kaget hingga hampir terjengkang dari kursi reot yang di dudukinya terletak di pinggir kolam renang. Bergegas Aden menghampiri pak Sorichi.
“Kamu mau berenang dengan seragam sekolah itu ya?” pak Sorichi setengah membentak, kesal mendapati Aden yang belum siap.
“Maaf pak, badan saya sedikit kurang fit, jadi sengaja gantinya nanti kalau sudah dipanggil.” Aden beralasan, berbohong.
“Dingin.” Aden menambahkan lirih, berbohong lagi.
Pak Sorichi hanya geleng-geleng kepala. Percuma marah-marah pada siswa yang di kantor guru sudah terkenal sering bikin masalah ini.
Buru-buru Aden mencari celana di dalam tas Upi. Mengambilnya dan berlari ke kamar ganti. Tanpa menyadari bahwa di celana kolor itu terdapat gambar Teletubies. Gambar yang cukup besar dan pasti cukup jelas terlihat. Gambar yang telah membuatnya ditertawakan seluruh anak-anak kelas, termasuk Fidhi. Ditambah lagi dia lupa kalau kemarin habis kerikan, dan bekas kerikan berwarna merah tua itu belum hilang di seluruh punggung dan dadanya, menambah penderitaannya hari itu.
“Wow tatto yang keren.” Ledek Sari mengomentari bekas kerikan Aden, sambil tertawa hampir terguling-guling di air.
“Aden, Lala, Pooh, berpelukaaannn.” Rani menambahkan, disambut tawa dari anak-anak kelas.
HAHAHAHAHA ...
Seusai ujian renang, di kelas.
“Tega kamu Pi, kasih pinjam celana kok kolor? Ada gambar teletubiesnya lagi.” Protes Aden pada Upi.
“Maafkan saya teman. Ini salah faham. Salah persepsi. Kamu salah mengambil celana. Celana yang saya sediakan untuk kamu itu di seleretan tengah. Kalau yang di seleretan pinggir itu punya adik saya. Tempo kemarin itu dia meminjam tas saya. Saya juga lupa mengeluarkan celana tersebut.” panjang lebar Upi menjelaskan.
“Ya sudahlah saya maafkan saja kesalahan kamu.” Kata Aden singkat, bahasanya ikut terbawa.

Hancur sudah reputasiku di depan Fidhi.” Batin Aden, lesu.

-Bersambung-
read more “PLAYBOY KARET (Bab VII - Seorang Lelaki Tidak Boleh Malas)”

Kamis, 15 Maret 2012

WAJAH INDONESIA (Tak wajar dan sejajar)

Aku terbangun, kemudian berjalan pelan menuju keluar pintu dan mendapati ribuan sinar matahari menampar wajahku, terasa hangat namun sedikit menyengat.

Kulempar pandanganku kepada sekitar. Kuingat-ingat kejadian terakhir yang menimpaku.


"Kemarin ... ah mungkin dua hari yang lalu ... " batinku ragu.


"Ah, mungkin tiga hari yang lalu, atau bahkan seminggu yang lalu, aku dikejar-kejar oleh tiga orang sipir tahanan." batinku, sedikit yakin kali ini.

"Hebat benar aku ini bisa lolos dari kejaran mereka" aku bangga.


"Satu di antara mereka perutnya tambun, wajar saja aku bisa lolos darinya. Satunya lagi wajahnya tampan, tapi larinya nampak gemulai, bukan masalah bagiku. Satu sipir terakhir yang bertubuh kekar berotot macam akar belukar dan bertampang seram, aku tak menyangka bisa lebih cepat darinya." gerutuku sambil tersenyum sendiri.

"Ah, jangan-jangan mereka masih berkeliaran di sekitar sini mencariku." batinku, waspada.


Aku berjalan mengendap-endap untuk memastikan mereka sudah tidak di sekitar sini lagi. Langkahku terhenti di depan sebuah papan besar di samping pintu pagar luar masjid, bertuliskan,

TANAH SENGKETA.

"Ah, iya benar aku ingat, aku berlari sangat kencang dan langsung masuk ke dalam masjid ini dan bersembunyi di kolong meja mimbar tempat khutbah di sana. Rupanya aku terlalu lelah dan tertidur."

Tiba-tiba aku merasa sangat lapar. Rasanya aku benar-benar sangat rindu dengan sepiring nasi. "Ah tidak, dua piring atau tiga piring nasi rasanya akan mampu aku habiskan kali ini."

Setengah berlari aku berjalan menuju keluar gang, di mana di gang tersebut hanya bangunan masjid tua itulah yang berdiri. Di sekitarnya hanya semak-semak belukar liar dan pohon-pohon tua berdiri yang nampak lelah.

Setibanya di ujung gang aku terperanjat, "Ada apa ini? Semuanya nampak tak wajar dan sejajar?"

Kudapati sebuah kewajaran dalam ketidakwajaran. Sebuah jalan yang cukup besar memotong gang tersebut, dan di sepanjang jalan tersebut, di kanan kirinya berjajar rumah-rumah dengan bangunan yang nampak sama persis. Dari model rumahnya, luasnya, hingga sampai warna cat temboknya pun sama. Yang membedakan hanya nomor rumah yang terlihat jelas di samping pintu pagar setiap rumah.

Seketika aku lupa dengan target tiga piring nasiku. Aku sibuk mengingat-ingat hal terakhir yang ku alami. Aku memang berlari tunggang langgang tak karuan dengan tiga sipir di belakangku, tapi aku melihat dan ingat benar bahwa di sepanjang jalan ini tadinya adalah beberapa rumah besar yang berlantai dua bahkan tiga, dan sesekali menyelinap beberapa rumah kecil yang sebenarnya lebih pantas disebut rangkaian beberapa papan-papan untuk tempat tinggal.


"Ke mana bangunan-bangunan besar dan rumah-rumah papan itu?" tanyaku heran.


Bagai sebuah alarm, suara gaduh dalam perutku menyadarkanku dari keheranan luar biasa. Lalu ku abaikan rasa heranku dan lebih berpihak kepada rasa laparku.
Jalanan di sini sungguh sepi, sama sekali tidak terlihat orang di sana. Aku berjalan menyusuri jalan itu dan berharap menjumpai sebuah warung makan yang terselip di antara rumah-rumah kembar ini, tapi ternyata tidak, hingga aku sampai pada sebuah perempatan jalan. Aku baca sebuah nama jalan yang tadi aku lintasi,
Jalan Dahlan Iskan

Hingga baru kusadari bahwa tiga jalan yang lain ternyata cukup ramai. Ada dua orang polisi di sana yang nampak serius memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Kembali aku menyadari ketidakwajaran dan kesejajaran di depanku. Tidak ada kendaraan di sana, sama sekali tidak ada kendaraan. Hanya sesekali melintas beberapa sepeda dan dengan model yang sama.


"Hehe ... , pak polisi, serius sekali memperhatikan, apa yang akan kau tilang?" ejekku dalam batin, memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan.


Tetapi kemudian salah seorang polisi tersebut berdiri dan meniup peluitnya. Dia segera berlari mengampiri seorang pejalan kaki, seorang laki-laki muda dengan kumis tipis dan berpakaian sangat rapi, layaknya seorang eksekutif muda. Polisi tadi mengeluarkan sebuah kertas dan menulis sesuatu di kertas tersebut, lalu menyerahkan kertas tersebut kepada pemuda itu. Dengan wajah yang nampak mengantuk pemuda itu kemudian berlalu pergi.


Sebelum kedua polisi itu melihatku, aku segera beranjak pergi dengan langkah sedikit cepat. Ku ayunkan kakiku menuju sebuah jalan yang kali ini nampak lain dari jalan yang ku lalui tadi. Nampaknya ini wilayah perkantoran, aku menebak. Di sepanjang jalan itu berbaris rapi kantor-kantor. Model bangunannya bervariasi dan besar kecilnya pun bervariasi. Mulai kusadari bahwa aku menjadi bahan perhatian orang-orang di sekitarku. Nampak jelas raut muka iba mereka terhadapku dan mereka menyapa dengan senyuman dan kubalas pula dengan senyuman. Aku berada di tengah-tengah orang berpenampilan rapi, sementara penampilanku sungguh nampak mencolok perbedaannya. Segera kupercepat langkah hingga sampai pada ujung jalan dan aku segera berbelok ke sebuah jalan yang lain.

Aroma masakan menusuk hidungku. Merangsangku seolah menjadi manusia penjelmaan serigala lapar. Bagai maling beringas aku menyelinap masuk ke dalam sebuah rumah makan di antara beberapa rumah makan yang lain. Kudapati tiga orang perempuan yang tengah sibuk memasak.


"Mba, saya pesan nasi tiga piring, lauknya terserah apa saja, seadanya. Tolong cepat ya, saya sangat lapar. Kalau lama bisa-bisa saya terkapar." cerocosku asal, mengagetkan mereka yang tidak menyadari kehadiranku. Mereka hanya diam melongo, memadangku penuh keheranan.


Tiba-tiba seorang polisi datang dan melakukan seperti apa yang dilakukan polisi di perempatan jalan tadi. Dia menuliskan sesuatu di kertas dan rupanya di kertas rekapan aku disuruh cap jempol di atasnya. Kemudian satu kertas diberikan kepadaku dan satu rekapan kertas dibawanya. Polisi itu tidak bicara sama sekali namun keramahan terpancar dari wajahnya. Sembari tersenyum dia meninggalkan aku dan tiga orang yang sedari tadi masih melongo. Ku baca tulisan dalam kertas tadi,
Pelanggaran : Makan saat jam kerja.

"Ah, ada-ada saja ... mba tolong saya lapar." pandanganku beralih pada ke tiga orang tadi.


Kemudian salah satu di antara mereka segera menjawab, "Silahkan mas, itu ada piring di sebelah sana, silahkan mengambil sendiri."


Tanpa tedeng eling kusambar makanan-makanan itu. Aku makan dengan sangat lahap, dan sangat rakus bagai tikus. Setelah merasa sangat kenyang aku menghentikan makanku dan duduk sempoyongan bagai orang mabuk laut. Seorang yang tadi mempersilahkanku makan kemudian duduk di sebelahku.


"Sangat lapar ya mas?"


"Tadi sih iya mba, tapi sekarang sangat kenyang, jadi mengantuk."


"Jangan tidur di sini mas, nanti polisinya datang lagi."


"Mereka kan sudah pergi dari mana mereka tahu kalau aku tidur di sini?"


"Tuh, ada itu mas." katanya sambil menujuk sebuah kamera di sudut atas ruangan.


"Wah, pantesan tadi mereka tahu saya di sini. Tapi kok saya dikenakan pelanggaran ya mbak?" tanyaku setengah sadar setengah tidak akibat mengantuk karena kekenyangan.


"Karena mas makan di saat jam kerja." Jawabnya singkat.


"Oh iya, tadi saya sudah baca di kertas yang pak polisi tadi kasih."


...... kemudian kami terdiam, dan aku hampir tertidur, tapi kemudian terbelalak kaget.


"MAS JANGAN TIDUR DI SAAT JAM KERJA!" katanya setengah berteriak membuatku kembali terjaga. Aku segera bangkit dan menuju toilet. Kubasuh mukaku hingga merasa segar kembali.


"Sejak kapan ada peraturan nggak boleh tidur dan makan saat jam kerja mbak?" selidikku.


"Mas ini dari luar angkasa ya? Atau mas ini turis barat ya?" dia balik bertanya.


"Enak saja, saya ini orang Indonesia asli mba. Orang bumi asli, bumi pertiwi dan tercinta" jawabku bangga.


"Habis melancong ke luar negeri ya mas, bertahun-tahun nggak pulang?"


Aku terdiam sejenak. Dan menengguk segelas air putih di depanku.


"Beberapa bulan yang lalu saya dipenjara mba. Kasusnya sebenarnya sepele. Saya mencuri sebuah sandal di sebuah kantor. Ternyata sandal tersebut milik seorang pejabat." Aku mulai bercerita.


"Lalu?" dia memburu, penasaran.


"Ya itu tadi, saya tertangkap dan dimasukan ke penjara. Di penjara berbulan-bulan menunggu sidang tapi sidang ternyata nggak datang juga. Rasanya lama sekali di dalam sana. Akhirnya saya nekat kabur dari penjara. Saya lari sangat kencang hingga akhirnya berhasil lolos dan bersembunyi di sebuah masjid tua. Saya kelelahan dan tertidur. Kemudian terbangun, hingga akhirnya ... ya sampai di sini ini." jelasku panjang lebar.


"Kok mencuri mas? Saya kira di negara ini sudah tidak lagi ada orang mencuri. Lagipula mencuri sandal masa di penjara selama itu? Memang mencuri itu tidak akan pernah dibenarkan, tapi mencuri sendal hukumannya seharusnya tidak selama itu. Masa sih hukum kita seperti itu?" Dia tak percaya.


"Saya sih sudah nggak heran mba. Beberapa bulan sebelumnya ada tetangga saya yang niatnya meminta timun dari kebun tetanggaku yang lain, tetapi akhirnya dipenjara beberapa tahun karena tuduhan mencuri. Ya begini ini negara dan hukum kita mba." kataku mengeluh.


"Mas jangan sembarangan kalau bicara ya. Setahu saya pemimpin kita sekarang sangat bijaksana dan adil. Tidak ada lagi penindasan, pemiskinan, korupsi, dan hal-hal buruk lainnya. Semuanya sejahtera dan hidup damai di negara ini." katanya dengan nada sedikit meninggi, tanda tidak terima.


"Lho, mba kok ngeyel? Jelas-jelas saya mengalami sendiri kok." Bantahku.


Kami beradu pandang dan nampak tidak mau saling mengalah. Aku berdiri dan mengeluarkan beberapa lembar uang pamungkas yang tersimpan di saku rahasiaku.


"Berapa makanannya? Saya bayar!" tanyaku ketus.


"Lima ratus rupiah." jawabnya datar.


"Hahahaha, murah ternyata, nih saya bayar seribu, sisanya ambil saja." kataku sok, sambil memberikan selembar uang seribuan.


Saya bergegas berjalan akan keluar. Tetapi belum sampai pada pintu keluar orang tadi memanggilku.


"Mas, ini uangnya sudah nggak terpakai. Bayar makan kok pakai uang kuno?"


"Uang kuno bagaimana? Muka saya memang kuno, tapi bukan berarti uang saya jadi ikut-ikutan kuno mbak." aku menjelaskan.


"Ini sih uang tahun dua ribu sepuluh mas, jelas-jelas tuh ada tahunnya. Sudah nggak terpakai ini uang."


DEG! Jantungku berdetak mendadak cepat.

Mataku mencari sesuatu yang mungkin menempel di dinding. Tetapi tidak kutemukan.


"Mba, ada kalender?" tanyaku dengan suara gemetar.


"Tidak ada mas, tapi ini tanggal sebelas Januari."


"Tahun?" aku memburu.


"Dua ribu empat puluh" jawabnya datar.


DEG!

- - - -
"Mas, tertidur selama tiga puluh tahun?" tanyanya heran, itu pertanyaan ke sepuluhnya setelah aku menjelaskan semuanya. Aku sendiri tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku lebih banyak menengguk air putih di depanku ketimbang menjawab pertanyaan yang sama dan berulang-ulang.


"Jadi Indonesia sekarang sudah makmur ya mba?" aku balik bertanya.
"Iya mas, bahkan bisa dikatakan negara ini adalah pemimpin dunia saat ini." jawabnya.


"Sehebat itukan?"


"Tidak ada kelaparan, tidak ada pengangguran, tidak ada kemiskinan, tidak ada korupsi, tidak ada penindasan, tidak ada pembunuhan, tidak ada kesedihan." Jelasnya. Aku mengangguk-angguk.


"Itu di jalan Dahlan Iskan kok saya lihat semuanya rumah kembar mba?"


"Oh itu jalan khusus perumahan. Dan bukan cuma di situ mas, di jalan-jalan yang lain yang komplek perumahan juga rumah-rumahnya sama semua."


"Kok di jalan yang satunya lagi, kantor-kantornya berbeda-beda mba?"


"Jadi di negara ini, siapapun orangnya, entah itu pejabat, pengusaha, orang asing, ataupun masyarakat biasa, rumahnya sama semua, dan memang harus sama. Sementara kalau kantor-kantor boleh berbeda besar kecilnya tergantung skala usaha dan jumlah karyawannya. Tapi tidak untuk kantor pemerintahan yang juga harus sama satu sama lain."


"Wah, banyak sekali perubahan ya, jelaskan satu persatu mba." Aku mulai tertarik.


"Baiklah saya jelaskan tapi mungkin tidak semuanya karena keterbatasan waktu." Katanya. Aku membetulkan posisi duduk dan mulai menyimak.


"Semua orang harus tinggal di rumah yang sama besarnya. Dilarang bermalam di kantor, kecuali dengan ijin dan keperluan yang sangat penting. Jam kerja di mulai pukul 8 sampai pukul 12, istirahat satu jam dan mulai jam kerja lagi dari jam 13 sampai jam 15. Saat jam kerja kita dilarang tidur di manapun, baik di rumah sendiri ataupun di tempat-tempat umum, juga dilarang makan saat jam kerja. Di negara kita juga dilarang menggunakan kendaraan. Hanya sepeda saja, itupun khusus bagi orang-orang sakit. Jadi semuanya harus berjalan kaki."


"Tadi saya lihat seorang polisi menilang pejalan kaki?" potongku bertanya.


"Oh, itu mungkin karena dia berjalan terlalu pelan. Jadi jalan kaki pun tidak boleh pelan, harus dengan kecepatan sedang atau cepat."


"Wah, berarti harus produktif ya?"


"Ya benar. Eh mas, sebentar lagi waktunya istirahat dan saya harus mempersiapkan makanan untuk orang-orang kantor, nanti kita lanjutkan lagi obrolan kita."
read more “WAJAH INDONESIA (Tak wajar dan sejajar)”

DEMONSTRASI SETAN-SETAN

Pada suatu hari di sebuah negeri yang terkenal dengan kekayaan alamnya bernama republik Nesaindo, terjadilah demonstrasi besar-besaran. Itu bukan demontrasi sembarangan, karena itu adalah demontrasi gaib. Setan-setan di negeri tersebut melakukan demo di depan istana iblis.

"Mundur ... mundur ... mundur ... atau wujudkan tiga tuntutan kami!" isi orasi yang berasal dari sesesetan di antara mereka.
"Pertama apa teman-teman?" teriak dia lagi.
"BERIKAN KAMI PEKERJAAN" Seluruh demonstran berteriak berbarengan.
"Kedua?" teriak setan yang menggunakan mic tadi.
"BERIKAN KAMI PEKERJAAN" Jawab para demonstran lagi, semakin keras suaranya.
"Lalu tuntutan yang ketiga?"
"BERIKAN KAMI PEKERJAAN" jawab mereka lagi, serentak.

Begitu seterusnya demontrasi berjalan dengan tertib. Di dalam istana raja iblis terlihat galau dan bimbang. Dia memanggil penasehatnya.
"Ada apa itu ribut-ribut di luar?" tanya raja iblis.
"Siap baginda! Mereka itu setan-setan yang berasal dari seluruh penjuru negeri. Menurut info yang saya dapatkan, mereka adalah setan-setan pengangguran yang sudah tidak mempunyai pekerjaan. Jadi mereka berdemo kemari.
"Lho kenapa mereka nganggur? Bukankan sudah aku perintahkan secara jelas. Goda orang-orang di negeri ini untuk berbuat maksiat. Satu orang itu cukup sebagai pekerjakan sepuluh sampai lima belas setan. Dan kalau yang rajin ibadah bisa ditambah dua puluh lima sampai lima puluh setan. Kalau menurut perhitunganku, pas kok. Semua akan akan dapat pekerjaan. Lalu kenapa mereka masih berdemo?  Atau mereka mau mengkudeta aku? "jelas raja iblis, nada bicaranya mulai meninggi.
"Siap komandan, eehhh maaf maksud saya baginda. Nah itulah permasalahannya, sekarang ini tidak seperti dulu. Kalau dulu orang-orang di negeri ini itu akhlaknya bagus, imannya kuat, dan itu merupakan sebuah lapangan pekerjaan yang sangat baik karena mampu menyerap tenaga kerja bagi kaum kita. Seperti yang baginda bilang, bahkan dulu sering kita jumpai untuk menggoda satu orang saja kita mempekerjakan bisa sampai lima puluh setan. Nah kalau sekarang sudah berbeda, mereka gampang sekali tergoda. Satu godaan kecil dari satu setan kita yang pengalamannya masih minim saja sudah bisa membuat mereka tergoda. Jadi intinya adalah sekarang itu satu orang hanya butuh satu setan saja. Jadi yang lain banyak yang nganggur." jelas sang penasehat panjang lebar.
"Oke ... oke ... baiklah aku tau." Raja iblis memahami. Kemudian dia mejamkan mata, tangannya mengusap-usap jidatnya yang telah berkerut menandakan usianya yang sudah tidak belia lagi, sambil berpikir keras bagaimana agar kaumnya tidak menganggur.
Setelah beberapa menit berpikir dan saran-saran dari penasehatnya ditolaknya akhirnya raja iblis menemukan ide.
"Ayeeeee assoooyyyyashololeeeee ... aku ada ide. Kemarin waktu aku pulang kunjungan dari luar negeri di jalan aku liat pemimpin negeri ini dan para pejabatnya di sebuah gedung. Dan aku liat di sekitar mereka sama sekali tidak ada setan yang menggoda. Jadi para setan pengangguran itu sebaiknya semuanya suruh ke gedung itu saja dan goda mereka habis-habisan. Keroyok mereka. Suruh mereka korupsi, suruh mereka menindas rakyatnya, suruh mereka selingkuh, ya pokoknya apa sajalah, pokoknya suruh mereka bermaksiat." jelas raja iblis berapi-api penuh semangat, optimis dengan idenya.
"Siap baginda, eh tapi baginda. Maaf." potong penasehat.
"Kenapa lagi? Masalah imbalan? ... jangan khawatir, dapat menggoda pemimpin itu imbalannya jauh lebih besar dari pada menggoda manusia biasa. Katakan itu sama setan-setan di luar." kata raja iblis.
"Siap baginda! Eh bukan masalah itu tuan. Kalau itu sih mereka sudah tau. Tapi yang jadi masalah adalah orang-orang para pemimpin di negeri ini itu tidak perlu kita goda sudah korupsi duluan tuan, sudah sering bohongin rakyat mereka. Jadi karena terus-terusan keduluan, sebelum digoda mereka sudah bermaksiat duluan ya akhirnya setan-setan kita jadi males menggoda mereka. Itulah kenapa tidak ada setan yang menggoda mereka tuan." jelas sang penasehat.
Raja iblis hanya melongo.
-End-

Hanya fiktif belaka, kalau ada kesamaan nama, cerita, dan tokoh harap dimaafkan karena tindakan memaafkan itu baik.

Chiemot D'hornet
Senin, 06 Feb 2012, 01.25 WIB. 
read more “DEMONSTRASI SETAN-SETAN”

ENTREPRENEUR Bagian III


Engkau sarjana muda, resah mencari kerja. Tak berguna ijasahmu.

Sepenggal lirik lagu iwan fals tersebut aku kutip. Semalam mendengarkan lagu ini. Sambil terpejam aku hanyut dalam setiap lirik yang dibuat iwan fals. Sungguh sangat mengharukan.  Aku membayangkan seorang sarjana muda berjalan ke sana kemari disiram terik matahari, masuk kantor dan keluar kantor. Kubayangkan betapa payah dirinya mencari pekerjaan.

Jaman sekarang sudah lebih canggih. Selain sudah banyaknya iklan lowongan pekerjaan di koran, seseorang juga tinggal duduk manis depan komputer dan mengakses internet untuk mencari lowongan pekerjaan, kemudian mereka tinggal mengirimkan surat lamaran dan persyaratan via pos. Bahkan lebih praktis lagi dengan hanya mengirimkan softcopy lamaran dan persyaratan via email. Sekarang sudah lebih "nyaman".

Tetapi dalam kenyamanan itu ada harga yang harus dibayar. Kemudahan mengakses lowongan itu sendiri justru menjelma menjadi seperti jaring bagi lulusan sarjana. Lowongan di mana-mana itu seperti menjadi daya tarik tersendiri bagi para lulusan tersebut. Tinggal pilih yang mana, ada ratusan bahkan ribuan lowongan. Sebar lamaran dan menunggu nasib menjemput. Semakin sempit saja ruang untuk jiwa entrepreneur mereka, bahkan mungkin sama sekali sudah hilang. "Buat apa susah-susah merintis usaha", seperti itu yang dipikirkan.

Kalau sudah begini, bisa dibayangkan bagaimana jadinya sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Jumlah lulusan yang tidak pernah berhenti membengkak, sementara lowongan pekerjaan terus turun seiring dengan turunnya gairah usaha. Lebih bahaya lagi jika justru semakin banyak orang-orang asing yang menjadi bos dan kita yang bekerja untuk mereka. Kita menjadi budak di rumah sendiri.

Tentunya tidak semua orang punya jiwa enterpreneur dan tidak mungkin dipaksakan untuk harus membuka usaha. Tetapi akan lebih baik jika ada keseimbangan di antara keduanya. Yang punya jiwa entrepreneur ya jangan takut untuk merintis usaha, dan yang yakin dengan kemampuan dirinya sendiri sebagai seorang profesional ya bekerja sesuai bidangnya. Dengan keseimbangan seperti ini tentunya akan jauh lebih baik.
read more “ENTREPRENEUR Bagian III”

Selasa, 13 Maret 2012

MENUNGGU

Kurajut sejuta rindu, tak tau untuk siapa
Jarum jam terus berdetak menggertak
Aku merasa terjerembab tanpa sebab
Pun terdesak dalam sesak

Kau harus bergegas
Aku ingin segera berkemas

Ku cari dan berlari tak henti
Ku raba dan ku baca sekuat tenaga
Siapa?
Siapa kau hai gadis?

Angin selatan berjalan lamban menyelinap
Ku biarkan sejenak agar kau bersiap.
read more “MENUNGGU”

PLAYBOY KARET (Bab VI - Seorang Lelaki Harus Berani Melangkah)

Bab VI
Seorang Lelaki Harus Berani Melangkah

Aden seperti kesurupan jin kampus. Dia banyak menghabiskan waktunya di ruang dosen dan perpustakaan. Tekadnya sudah bulat. Dia harus segera menyelesaikan skripsinya, ujian, mendaftar wisuda, lulus dan secepatnya pergi dari kota ini. Semakin cepat semakin baik. Dia tidak mau berlama-lama di kota ini. Jarak kost dan kampus UGM yang dekat membuat peluang untuk bertemu dengan Fidhi sangat besar. Aden selalu waspada, jangan sampai bertemu dengan perempuan itu lagi. Pikirnya.
Hari terus berjalan. Detik pun terus berlari.
Hari ini Linggar Radendya resmi menyandang gelar sarjana. Dua huruf SE di belakang namanya membuat namanya semakin terlihat jantan. Setelah selesai acara wisuda dia tidak melewatkan untuk berfoto bersama keluarga. Mengabadikan tempat-tempat di kampus yang telah menjadi saksi bisu perjuangannya dalam meraih gelar sarjana. Mba penjaga kantin pun tak lupa dimintanya untuk berfoto bersama. Setelah puas mengambil foto, Aden beserta keluarganya langsung menuju salah satu rumah rumah makan di Jogja. Selesai makan keluarga Aden memutuskan untuk langsung pulang ke Semarang. Aden pulang menuju kost menggunakan taxi. Dalam perjalanan pulang menuju kost handphonenya berdering.  
“Halo ... betul saya berbicara dengan Linggar Radendya, SE?” sebuah suara keluar lewat speaker handphone Aden.
“Ah kamu Ferr, biasa aja deh.” Jawab Aden, mengenali suara orang tersebut.
“Haha ... selamat ya kawan. Akhirnya ... “ Ferry berhenti berbicara.
“Akhirnya kenapa?” tanya Aden.
“Akhirnya aku bisa makan enak lagi hehe. Makan-makan dong.” Jawab Ferry.
“Bereeesss. Kamu kabarin Andry, Vivid, Dona, dan Angga. Kumpul di tempat biasa jam delapan malam ini.”
“Siap laksanakan.”
“Dan ingat, satu undangan hanya berlaku bagi satu orang. Kalau bawa cewek suruh bayar sendiri.” Tegas Aden.
“Baik pak Linggar Radendya, SE. Nanti saya konfirmasi lebih lanjut.” Ferry kembali menggoda.

“Ah kamu Ferr, biasa aja deh.” jawab Aden mencoba merendah, malu, tetapi terselip rasa bangga di hatinya.

======================

Pukul delapan malam lebih seperempat mereka berkumpul di Cafe Jonai. Cafe itu menjadi tempat favorit mereka jika salah satu dari mereka baru saja mengalami sebuah peristiwa yang menggembirakan. Peristiwa jadian, kelulusan, naik jabatan, dapat job manggung dan berbagai peristiwa menggembirakan lainnya pasti diakhiri dengan acara makan-makan di Cafe Jonai. Letaknya di tengah kota, ramai dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswi berkantong tebal dan bermobil. Mengingat harga-harga menunya yang cukup mahal, praktis setelah acara makan-makan ini Aden terpaksa harus puasa jajan selama sebulan ke depan. Ono rego ono rupo, begitu orang jawa bilang. Ada harga ada rupa. Mereka memang tidak pernah dikecewakan jika harus membayar mahal di situ. Makanan berkelas hotel berbintang, sampai makanan ringan dengan menu ala negara-negara asing ada di situ. Pemandangan yang bisa dinikmati di sana juga tidak kalah eksotis dengan rumah makan-rumah makan di Bali. Letaknya yang tinggi di atas perbukitan bisa membuat mereka menikmati pemandangan bernuansa klasik kota Jogja di kala malam. Tetapi pemandangan yang lebih membuat mereka tertarik tentunya adalah cewek-cewek cantik yang berdatangan ke cafe tersebut. Cowok-cowok berdompet tebal dengan mobil mewahnya pasti mengajak dinner cewek-cewek cantik Jogja ke situ.
Lima pemuda terlihat cemas duduk memutari sebuah meja di sudut ruangan.
“Udah jam delapan lebih seperempat tuh orang lum nongol juga.” Vivid melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Dasar playboy karet.” Dona mulai sewot.
“Kok kalian nggak berangkat bareng dari kost?” Angga bertanya pada Ferry dan Andry.
“Tadi gue berangkat duluan jam tujuh karena mau mampir kost Fifi. Andry ikut gue.” Jelas Ferry.
Seorang perempuan datang menghampiri mereka. “Maaf kak ada yang bisa saya bantu.?”
“Oh ... Ada dek. Kebetulan sekali. Bisa tolong tuliskan nomor handphone adek di situ.” Ferry menunjuk sebuah buku lirik lagu yang dibawa oleh Vivid.
“Oh .. silahkan. Ini. Maaf kalau merepotkan.” Vivid dengan senang hati menyerahkan buku liriknya sambil melemparkan senyumnya semaksimal mungkin.
Perempuan itu hanya tersenyum.
“Maaf dek, mereka bandel. Kita masih nunggu seorang teman kita. Pesan makannya nanti saja.” Andry menjelaskan.
Perempuan itu kemudian pergi meninggalkan mereka.
“Kalau dia nggak dateng gimana? Masa mau cabut? Malu dong. Mau ditaruh di mana muka kita yang keren-keren ini?” Dona khawatir.
Beruntung tak lama kemudian Aden nongol. “Sori kawan, aku ketiduran, hehe.”
Mereka lega. Memanggil perempuan tadi dan segera memesan makanan. Tidak perlu waktu lama makanan dan minuman yang mereka pesan sudah datang dan terhidang di meja.
“Setelah ini apa rencana kamu Den?” Dona bertanya sambil menyantap steak favoritnya.
“Masih belum tahu, tapi yang jelas aku harus pergi dari kota ini. Entah ke Jakarta, Semarang, Papua, Alaska, India ... yang penting pergi dari sini. Secepatnya” Jawab Aden asal.
“Segitunya kah? Calm kawan. Tak perlu terburu-buru. Rencanakan dulu baru kemudian melangkah.” saran Angga.
“Kota ini terlalu sempit untuk selalu menghindar darinya.” Aden memberi alasan.
“Masih belum juga bisa melupakannya? Ketakutanmu untuk bertemu dengannya terlalu berlebihan, kawan. Itu justru akan membuat kamu semakin terus memikirkannya. Tak perlu kamu berlari menghindar. Siapa tahu dia itu ternyata adalah jodohmu. Jodoh tidak bisa dihindari.” Panjang lebar Andry berbicara.
Semuanya kembali terdiam. Sibuk dengan hidangan masing-masing.
“Aku akan pulang kampung dulu. Di sana aku bisa lebih tenang memikirkan rencana ke depan.” Aden lanjut berbicara.
Semuanya mengangguk tanda setuju. Setelah itu mereka melanjutkan berbicara tentang rencana masing-masing. Ferry masih harus terus berjuang menyelesaikan S2-nya di UGM. Andry akan tetap bekerja di perusahaan swasta milik temannya sambil berusaha menyelesaikan kuliah S2-nya. Dona masih akan terus mengajar musik di salah satu sekolah swasta di Jogja, sambil terus ngeband. Vivid memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya yang sekarang dan memilih merintis usaha sendiri, dengan harapan lebih mempunyai banyak waktu untuk ngeband. Sementara Angga memutuskan untuk berhenti ngeband sementara dan berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan tesisnya.
“Ngomong-ngomong soal band, memangnya kalian mau ngeband hanya berdua?” tanya Ferry pada Vivid dan Dona.
“Iya, Aden dan Angga kan sudah keluar dari band? Tinggal kalian berdua” Andry menegaskan pertanyaan Ferry.
“Nggak masalah, nanti aku ngebass sambil ngedrum sekaligus. Dan Dona pegang gitar, keyboard, dan nyanyi sekaligus.” Jawab Vivid setengah bercanda.
“Kamu Ferr, nanti bantuin kita ya?” timpal Dona. Membuat Ferry geer dan antusias. Menjadi pemain band memang sangat diinginkannya dari dulu, tetapi karena feeling musiknya yang sangat jelek membuatnya susah dalam belajar alat musik. Padahal Vivid, Dona, dan Angga sering mengajarinya jika mereka ngumpul di kost. Suaranya pun sudah tak tertolong, seperti anjing menggonggong, serigala melolong.
“Bantuin apa? Gue kan nggak bisa memainkan alat musik. Jadi vokalis kalian maksudnya?” tanya Ferry antusias. Matanya berbinar.
“Bantuin pegangin panggung biar nggak roboh.” Ledek Dona.
Wakakakakakakakakakak. Semua orang melihat ke arah mereka. Merasa terusik malam romantisnya. Mereka tak perduli.
“Aden dan Angga nggak akan pernah keluar dari band ini. Mereka hanya lagi ngungsi sementara.” Kata Vivid.
“Iya benar, kalau kalian kangen ngeband dan pengen balik lagi dua tempat itu selalu kita siapin buat kalian berdua.” Dona menambahkan.
Aden dan Angga mengangguk, tersenyum.
“Hidup, The Virensu!!” Andry mengangkat gelasnya. Semua ikut mengangkat gelasnya.
“Hidup Linggar Radendya, SE.” Ferry nyeletuk. Beberapa pengunjung lain kembali memandang mereka.
“Biasa aja kali, Ferr.” Aden kesal. Kakinya menginjak kaki Ferry.
“Toss ...”
“Toss ...”

-Bersambung-
read more “PLAYBOY KARET (Bab VI - Seorang Lelaki Harus Berani Melangkah)”

Minggu, 11 Maret 2012

PLAYBOY KARET (Bab V - Seorang Lelaki Harus Bisa Bangkit)


BAB V
Seorang Lelaki Harus Bisa Bangkit

Seharian ini Aden hanya mengurung diri di kamar. Kejadian semalam benar-benar meruntuhkan semangatnya. Kamarnya dibiarkan berantakan. Padahal dia adalah seorang yang sangat menyukai kebersihan dan kerapihan. Biasanya buku-buku tertata rapi di rak. Tidak ada satupun pakaian kotor tergeletak atau tergantung sembarangan. Lantai mengkilap bersih. Semua barang tersimpan di tempatnya masing-masing. Terdapat tulisan besar di dinding tanda peringatan.
SEMBARANGAN BUANG PUNTUNG, SAYA SUMPAHIN BUNTUNG!!!
Namun kali ini dia tak perduli. Dibiarkannya buku-buku novel yang seharian tadi dibacanya tergeletak berserakan. Asbak sudah tidak muat lagi menampung puntung-puntung rokok yang telah dihisapnya, sehingga jatuh mengotori lantai. Dua bungkus rokok tanpa sadar telah habis olehnya dalam seharian ini. Dia benar-benar tidak perduli, termasuk pada tumpukan lembaran skripsi yang semalam telah di print. Tergeletak diacuhkannya tak berdaya.
“Den, makan yuk?" Ajak Andry.
Aden tak bergeming.
“Jam segini lagi rame-ramenya nih warung-warung makan diserbu mahasiswi.” Andry kembali merayu.
Namun tetap saja Aden asyik dengan novel yang dibacanya. Novel yang sudah berulangkali telah dibacanya dan sebenarnya sudah bosan membacanya. Tetapi tidak ada pilihan lain. Membaca novel dapat membunuh waktunya, dan dengan harapan terjadi sebuah keajaiban, begitu selesai membaca novel tau-tau sudah sudah tahun 2020. Setidaknya saat itu kemungkinan besar dia telah berumah tangga dan sesosok istri yang baik dan sholehah dapat membantunya melupakan Fidhi.
Andry tahu betul bahwa sahabatnya itu sedang mengalami masalah.
“Sedang ada masalah ya?” dengan hati-hati Andry bertanya.
“Hah? Kenapa?” Aden pura-pura tidak mendengar. Dia memang sedang malas untuk berbicara. Termasuk kepada sahabatnya itu.
“Iya tuh, seharian cuma bertapa aja di kamar. Putus cinta kali. Katanya playboy? Tapi kok lemes gitu?” tiba-tiba Ferry ikut nimbrung masuk ke dalam kamar.
“Apapun masalahnya ...” belum selesai Andry bicara.
Ferry memotong sambil cekikikan. “Minumnya tetap teh botol sosro.”
Aden menatap Ferry. Dingin.
“Jangan bercanda dulu, Ferr.” Andry memperingatkan.
Ferry meminta maaf dan keluar kamar. Suasana menjadi hening. Tidak biasanya suasana kost seperti ini.
“Apapun masalahnya, kamu nggak boleh terus-menerus larut dalam kesedihan seperti ini. Kemana perginya Aden yang penuh rasa optimis, tidak kenal menyerah, dan selalu percaya diri itu?” Andry berbicara memecah keheningan.
“Setidaknya itu sudah kamu tunjukan kepada Fidhi, cewek yang selalu kamu ceritakan itu. Kamu telah menembak dia sampai sepuluh kali, itu luar biasa kawan. Aku jamin tidak ada cowok lain di dunia ini yang seperti itu. Meskipun ditolak tetapi kesungguhan kamu dan sifat pantang menyerah kamu terlihat di situ.” Lanjut Andry menyemangati.
“Kali ini apapun masalahnya kamu harus bangkit. Kasihan tuh skripsi kamu tergeletak begitu saja. Aku tahu kamu tadi tidak bimbingan. Bangkit meennnnn!!!” Andry belum berhenti menyemangati.
Melihat Aden yang tidak bereaksi akhirnya Andry pamit pergi membiarkan Aden sendiri. “Kita duluan ya, kalau mau nitip makan nanti sms saja.”

Aden terus saja terdiam. Tetapi dalam diamnya otaknya memikirkan apa yang dikatakan Andry tadi.

====================

Sepagi ini Aden telah bangun. Ayam pun sepertinya dibuat terheran-heran dengan kejadian tidak biasa ini. Bangun sebelum subuh, sempat melaksanakan solat tahajud. Kemudian membaca skripsinya dan mempelajarinya. Begitu adzan subuh dia segera menuju masjid untuk solat berjamaah. Sepulang dari masjid dia menjumpai Andry yang baru saja bangun tidur.
“Benar kata kamu Ndry. Aku harus bangkit. Thanks ya.” Ucap Aden sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.
“Nah gitu dong, itu baru Aden yang aku kenal.” balas Andry.
“Ferry mana?
“Masih ngorok tuh.”
Kemudian, BRAKKK .... BRAKKK .... bunyi pintu kamar Ferry yang digedor.
“Woi bangun pemalas!!! Katanya mau kuliah? Telat lho!!” Aden setengah berteriak.
Tanpa babibu, Ferry seketika itu juga terbangun kaget dan setengah berlari menuju kamar mandi. Dia memang harus masuk mata kuliah hari ini, kalau bolos lagi bisa-bisa tidak boleh ikut ujian. Pada mata kuliah tersebut sang dosen tidak mengenal kata terlambat, yang dikenalnya hanya masuk dan tidak masuk. Sudah tiga pertemuan terakhir Ferry tidak boleh masuk kelas karena terlambat.
Selesai mandi dan bersiap, secepat kilat Ferry bergegas segera berangkat. Sampai akhirnya dia sadar ketika sudah di luar rumah kost.
Lho kok masih gelap?” tanyanya dalam batin. Kemudian kembali masuk ke dalam rumah kost.
“Jam berapa ini Den?” tanya Ferry penuh curiga.
“Jam lima subuh.” jawab Aden enteng.
“Kamprettt lu ah, ngerjain gue ya!!” Ferry sewot.
“Lho ... aku bangunin biar kamu nggak telat kuliah. Ngerjain gimana?”
“Tapi ini masih jam lima subuh, monyyooong!!! Kuliahku itu jam tujuh. Kampus masih sepi.”
“Siapa bilang kuliah di kampus? Kuliah subuh sana ... hahaha.” Aden segera berlari sebelum sebuah tas melayang menyambarnya.

“Kampreeeettt lu Den!”

-Bersambung-
read more “PLAYBOY KARET (Bab V - Seorang Lelaki Harus Bisa Bangkit)”